Showing posts with label pendidikan remaja. Show all posts
Showing posts with label pendidikan remaja. Show all posts

Cara Mendidik Anak yang Malas Belajar

Anak malas belajar? Pikirkan bunda masa depan dia nanti seperti apa. Belajar itu sangat penting. Belajar merupakan sebuah bekal yang sangat penting dalam menata masa depan anak Anda. Belajar akan membentuk suatu kepribadian yang disiplin dan akan membentuk anak – anak yang rajin mengingat anak yang rajin memang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia ini.



Karena itu jangan dibiarkan saja ketika anak Anda mulai malas belajar. Upayakan untuk kemudian Anda mengatasinya dengan menerapkan cara mendidik anak yang malas belajar secara tepat. Seperti apa cara mendidik anak yang malas belajar secara tepat? Langsung saja Anda bisa cek dan simak informasi lengkapnya di bawah ini!


Cara Mendidik Anak yang Malas Belajar 

Lakukan komunikasi dengan anak 

Semakin anak bertumbuh dewasa memang kiprah dari komunikasi menjadi sangat penting. Anda harus dapat membagi waktu antara urusan kantor, suami, urusan rumah dan anak Anda. Upayakan di sela waktu dapat Anda budayakan mengobrol bersama anak dan ciptakan keserasian agar hubungan Anda dan anak bisa semakin terjalin erat dan hal ini juga akan membuat anak semakin mudah untuk diatur.


Berikan contoh yang baik pada anak

Anda memang wajib menjadi contoh yang baik untuk anak Anda. Jika Anda telah berhasil merayu anak, lalu anak juga sudah mau belajar, ada baiknya untuk Anda tetap mendampingi dia di sampingnya sembari baca buku atau kerjakan tugas kantor Anda. Dengan begini akan dapat Anda selesaikan dua pekerjaan sekaligus yaitu tugas kantor dan mengurus anak. Dan jauhkan ponsel atau tablet ketika Anda sedang belajar bersama dia.


Atur jam belajar anak Anda

Mulai sejak dini ada baiknya untuk Anda selalu mengatur waktu anak bahkan dalam hal belajar sekalipun. Upayakan untuk Anda tetap memberikan kebebasan pada anak karena hal ini akan dapat membuat anak Anda jadi terbiasa dengan rutinitas waktu yang memang sudah disepakati bersama. Misalkan tetapkan waktu belajar anak sekitar jam 5 sore setelah ia bermain atau Anda juga dapat memberikan sedikit kejutan jika anak tepat waktu dan sebagainya.


Bunda harus bersabar menghadapi anak Anda

Mungkin anak Anda sulit menangkap pelajaran ketika Anda mengajar? Anda harus bersabar. Jangan marah – marah menghadapi hal ini tetapi upayakan Anda ajak anak diskusi untuk bisa menyelesaikan masalah kesulitan dari anak Anda tersebut. Kalau perlu upayakan dalam kegiatan belajar mengajar selipkan cara mengajar yang menyenangkan agar dia semakin semangat dalam belajar.
Itulah bunda sedikit informasi untuk Anda tentang Cara Mendidik Anak yang Malas Belajar. Semoga informasi diatas menjadi informasi yang bermanfaat. Selamat mencoba dan dapatkan hasilnya.

Yuk intip suka dan duka anak sekolah jaman sekarang


Apakah sekarang ini kalian masih menjadi anak sekolah? Masa sekolah merupakan masa yang menyenangkan. Sekolah merupakan tempat untuk menimba ilmu untuk kehidupan yang lebih baik lagi nantinya. Di sekolah, anak akan dibimbing untuk dapat memahami ilmu, mendapat keterampilan dan saling berinteraksi. Sekolah juga membantu membentuk karakter anak yang baik. Pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah juga diharapkan dapat membentuk anak yang tidak hanya pandai akademik tetapi juga mulia akhlaknya. Di setiap sekolah, tentu ada peraturan untuk mendisplinkan anak. Sekarang ini, zaman sudah semakin modern. Beberapa peraturan mungkin sudah tidak seketat dulu lagi. Tapi, tentunya masih tetap ada suka dan dukanya menjadi anak sekolah zaman sekarang. Berikut ini beberapa suka duka anak sekolah zaman sekarang yang sayang jika kamu lewatkan.
Sukanya:
1. Teknologi semakin canggih
Sekarang ini, teknologi sudah semakin canggih saja. Anak-anak juga sangat cepat mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Sekarang ini, hampir setiap anak sekolah sudah mempunyai gadget. Mereka sudah bisa menjalankan aplikasi-aplikasi yang ada. Terkadang, mereka tidak hanya mempunyai satu gadget saja. Ada juga beberapa anak yang sudah tidak mencatat lagi di buku, karena mereka bisa menggunakan tablet atau laptop. Hal ini tentu sangat berbeda sekali dengan zaman dahulu, dimana teknologi dan gadget masih sangat terbatas.
2. Benda-benda keren dan gaul
Zaman sekarang ini, banyak juga benda-benda keren di kalangan anak sekolah. Banyak peralatan sekolah yang keren dan gaul yang bisa dibeli di toko atau mall. Dimulai dari sepatu branded, tas sekolah branded, dan alat tulis dengan berbagai macam bentuk. Benda-benda-benda seperti itu tentunya sangat sulit dijumpai pada anak sekolah jaman dahulu.
3. Pelajaran yang tidak monoton
Dengan adanya teknologi yaang semakin canggih, para guru pun menjadi semakin kreatif untuk mengajar anak didiknya. Pada jaman dahulu, guru hanya mengandalkan buku paket sebagai media belajar. Tentunya, hal ini kadang membuat anak akan menjadi cepat merasa bosan. Sekarang, guru bisa mengajar dengan berbagai media. Bahkan, untuk belajar bahasa Inggris, anak didik dapat langsung berkomunikasi dengan bule melalui video call. Banyak lagi inovasi-inovasi untuk proses pembelajaran yang bisa membuat anak tidak bosan.
Dukanya:
1.    Individualis
Banyaknya gadget membuat seseorang jadi lebih individualis. Mereka lebih asyik dengan gadget yang ada ditangan sehingga waktu berkumpul dengan teman untuk mengobrol menjadi berkurang. Interaksi dengan teman menjadi berkurang. Anak sekolah jaman dahulu tidak memegang gadget. Mereka akan berkumpul dan melakukan permainan-permainan secara berkelompok saat istirahat. Kekompakan dan kerja sama tim sangat penting. Sekarang ini, anak sekolah lebih tertarik dengan game yang ada di gadget mereka masing-masing.
2. Ajang pamer
Adanya banyak gadget dan benda branded bisa menjadi celah untuk ajang pamer di sekolah. Hal ini juga dapat menimbulkan persaingan. Biasanya, akan terbentuk geng-geng di kelas. Kecemburuan sosial juga akan mulai muncul. Setiap anaak merasa tak ingin kalah dengan yang lainnya.
3. Kurikulum sering berganti
Sekarang ini, kurikulum sering berganti. Anak sekolah harus cepat tanggap dengan peribahan yang ada. Jika mereka tidak dapat beradaptasi, mereka akan susah untuk dapat mengikuti.

Upaya pencegahan kenakalan remaja


Tentunya sangat risih sekali mendengar adanya banyak kenakalan remaja dimana-mana. Sebebnarnya, kenakalan remaja dapat dimimalisir dengan adanyaa pendidikan yang baik sejak dini. Pendidikan yang utama dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua sebagai pendidik dalam keluarga harus berperan aktif dalam menjaga emosi anak, terlebih lagi pada saat usia remaja. Usia remaja sarat dengan emosi yang meluap-luap. Remaja akan mulai susah untuk diatur karena merasa dirinya sudah tidak anak-anak lagi. Orang tua hendaknya memahami perubahan yang terjadi pada remaja. Orang tua seharusnya memberi keteladanan dan tidak mendikte anak. Orang tua juga tidak boleh mengekang anak dalam beraktifitas. Biarlah saja anak berkreasi menurut bakat dan minat, namun tetap dalam pengawasan. Menghindari adanya kekerasan dalam rumah tangga akan menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi perkembangan remaja. Jika anak merasa tidak nyaman dirumah, maka akan membuka peluang lebih besar untuk melakukan hal yang melanggar aturan. Anak yang merasa tidak nyaman di rumah akan mencari beberapa teman diluar. Pergaulan bebas diluar akan mudah mempengaruhi sikap remaja. Remaja sangat rentan terpengaruh oleh hal-hal negatif.

Salah satu akar permasalahan remaja yang dapat memicu kenakalan remaja adalah tingkat kestressan yang tinggi dan pemahaman agama yang kurang. Menanamkan pendidikan agama merupakan bekal yang sangat bagus untuk membentuk kepribadian yang baik. Membatasi anak untuk melihat kekerasan dalam tayangan televisi juga akan membantu mengurangi perilaku yang kurang baik. Adanya adegan-adegan kekerasan dalam televisi akan mudah ditirukan oleh mereka. Bisa menjadi berbahaya kalau anak menonton tanpa dampingan orang tua. Orang tua harus dapat memilihkan tontonan yang baik untuk anak. Terkadang, orang tua kewalahan untuk mengontrol tontonan bagi remaja. Remaja sekarang sudah pandai untuk mencari informasi dalam internet. Mereka dapat bebas mengakses apapun melalui internet. Dan kembali lagi, agama akan menjadi filter terbaik untuk remaja. Dengan agama, remaja dapat membentengi dirinya dari pengaruh buruk dari manapun.

Peranan sekolah juga tidak kalah penting dalam mendidik remaja. Untuk mendisiplinkan anak, sekolah harus menerapkan tata tertib. Selain adanya pelajaran agama dan PKn, anak perlu mendapat bimbingan konseling. Bimbingan konseling dapat membina mental anak dan membantu mendapatkan solusi bagi anak didik yang mempunyai masalah. Semua warga sekolah hendaknya juga menciptakan kondisi yang penuh kasih sayang.
Usia remaja merupakan usia yang mempunyai energi tinggi. Sekolah handeaknya mempunyai beberapa program extrakurikuler. Dengan adanya beberapa kegitan ectrakurikuler, maka remaja dapat menyalurkan energinya untuk hal yang positif. Jenis ekstrakurikuler yang biasanya sangat digemari adalah olahraga dan seni.
Remaja merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Mereka harus terus dijaga agar dapat membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Faktor penyebab kenakalan remaja

Faktor penyebab kenakalan remaja 

Pada zaman sekarang ini, banyak tersiar kabar tentang kenakalan remaja. Remaja merupakan suatu masa dimana seseorang mulai mencari jati dirinya. Pada saat ini, seseorang akan merasa ingin diakui oleh lingkungan sekitar. Dia akan mulai mengalami perkembangan psikis dan fisik. Pola pikir yang dimiliknya juga mulai berubah. Lingkungan berperan penting dalam proses perkembangan remaja. Lingkungan inilah yang nantinya akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter remaja. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan yang baik akan menjadi pribadi yang baik. Namun, ketika dia tumbuh dalam lingkungan yang kurang baik, maka hal itu akan mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang melanggar aturan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja dapat disebab oleh beberapa faktor, diantaranya keluarga, sekolah dan masyarakat.


1.    Keluarga
Keluarga merupakan tempat utama bagi remaja untuk tumbuh. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa remaja yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis akan beresiko mengalami gangguan kepribadian. Kemungkinan remaja akan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis. Telah banyak contoh juga, remaja yang hidup dalam keluarga yang tidak harmonis akan lebih sering meninggalkan rumah. Mereka akan lebih suka menghabiskan waktu bersama rekan yang sepemikiran. Terkadang mereka akan melakukan beberapa hal yang meresahkan masyarakat untuk sekedar mencari perhatian atau ingin diakui kehebatannya. Ketika remaja hidup dalam keluarga yang harmonis, maka mereka akan merasa nyaman berada dirumah. Mereka akan lebih mudah untuk dikontrol agar tidak terjebak pada pergaulan yang kuraang baik. Keluarga juga berperan penting untuk menanamkan nilai-nilai moral agar remaja dapat menyaring beberapa hal baru. Pada era globalisasi ini, banyak budaya barat yang mulai meracuni para remaja. Budaya yang tidak sesuai dengan budaya negara kita tentunya dapat merusak mental anak bangsa. Oleh karena itu, sebaiknya keluarga memberikan tempat yang hangat bagi para remaja agar dapat membimbing mereka dengan muda.

2.    Sekolah
Kondisi sekolah juga akan memberi pengaruh pada kenakalan remaja. Kondisi yang tidak baik bisa menganggu proses belajar mengajar yang nantinya dapat memberikan peluang untuk berperilaku menyimpang. Guru sebagai pendidik hendaknya memberikan contoh yang baik dan membimbing anak didik dengan sepenuh hati. Semua elemen yang ada di sekolah berperan penting dalam bertanggung jawab pada perilaku anak didik, namun guru yang sangat berperan penting untuk dapat mencegah kenakalan remaja adalah guru agama, PKN dan Bimbingan Konseling.

3.    Kondisi Masyarakat
Kondisi masyarakat tentunya juga akan berpengaruh pada perkembangan remaja. Remaja yang senantiasa berinteraksi dengan masyrakat akan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ada beberapa kondisi masyarakat tidak sehat yang dapat memicu timbulnya kenakalan remaja,  diantaranya:  ada tempat hiburan yang buka hingga larut malam, ada peredaran alkohol dan obat-obatan terlarang,  ada banyak pengangguran, ada banyak anak putus sekolah, sering ada tindak kekerasan dan kriminalitas, perumahan kumuhdan adanya kesenjangan sosial.

Peran media sosial dalam dunia pendidikan remaja


Masa remaja merupakan suatu periode yang identik dengan beberapa perubahan. Pada saat remaja, seseorang akan mulai mengalami perubahan baik dari segi fisik maupun pemikiran. Pada masa remaja, seseorang akan lebih rentan mengalami beberapa masalah. Oleh karena itu, remaja seharusya mendapatkan perhatian khusus dan pemahaman yang baik. Keberhasilan remaja untuk kehidupannya yang akan datang perlu kerja sama yang bagus antara remaja itu sendiri, keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar.

Pendidikan menjadi faktor utama penentu keberhasilan remaja untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih layak nantinya. Pendidikan merupakan suatu sarana untuk membentuk kepribadian yang baik. Dalam hal pengetahuan, pendidikan di sekolah memegang peranan yang sangat penting. Agar dapat selaras dengan keinginan remaja, ada kalanya proses pendidikan di sekolah  tidak monoton. Penggunaan media selain buku akan menjadi daya tarik sendiri bagi remaja untuk lebih tertarik dengan pelajaran. Salah satu media yang mulai diterapkan saat ini adalah media sosial. Media sosial merupakan suatu media dengan isi yang diciptakan dan disalurkan melalui suatu interaksi sosial. Suatu aplikasi media sosial mengijinkan penggunanya untuk dapat berinteraksi dan memberi timbal balik dengan pengguna lainnya. Dengan media sosial, pengguna dapat membuat, merubah dan membagikan informasi dalam bermacam-macam bentuk. Selama beberapa tahun terakhir ini, perkembangan media sosial mulai digunakan dalam dunia pendidikan. Penggunaan media sosial untuk pendidikan sebagai media pembelajaran kini mulai dipandang penting.

Menggunakan media sosial sebagai media pembelajaran juga menunjang teori klasik tentang pembelajaran sosial yang menyatakan bahwa proses belajar sosial berpusat pada bagaimana seseorang belajar dengan cara orang lain sebagai subjek belajar. Sebagai contoh, orang dapat belajar membuat nasi goreng dengan cara melihat video orang lain yang sedang membuat nasi goreng.

Saat ini, media sosial menjadi sarana umum yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya media sosial, penyebaran informasi di kalangan remaja sangatlah cepat. Remaja di Indonesia terbilang sangat cepat beradaptasi dengan perkebangan teknologi saat ini. hampir di beberapa tempat, remaja saat ini menggunakan perangkat digital untuk dapat membantu beberapa aktivitas mereka. Sebuah riset menyatakan bahwa sekitar 98% remaja telah mengetahui tentang internet dan 79,5% adalah pengguna internet.

Komunikasi dalam media sosial yang terjalin dengan baik akan menciptakan lingkungan belajar yang baru. Peran guru pun akan berubah secara perlahan. Jika pada awalnya guru merupakan sumber pemberi materi, maka akan berubah menjadi fasilitator. Peserta didik tidak hanya mendapat ilmu dan informasi dari guru saja. Mereka dapat memperoleh ilmu dari berbagai sumber. Namun, alangkah baiknya jika setiap remaja yang terdorong untuk memakai media sosial sebagai media belajar perlu mempunyai pemikiran yang kritis dan dapat menyaring informasi yang akan mereka peroleh dari internet dan media sosial.

Model pendidikan yang baik untuk remaja

Fase dimana seseorang mulai mencari jati diri adalah fase remaja. Biasanya, masa remaja merupakan masa yang paling berkesan. Dalam fase ini, seseorang mengalami suatu transisi dari masa anak-anak menuju dewasa. Perubahan-perubahan yang terjadi tentu menjadi momen-momen yang sangat berkesan. Proses perkembangan psikis dan fisik juga menjadi pesat. Pola pikirnya juga akan semakin berkembang. Banyak orang mengatakan bahwa saat remaja merupakan saat-saat yang paling indah. Pada tahap ini, banyak hal baru yang dicoba untuk menemukan sesuatu yang dianggap sesuai dengan diriya.



Beberapa orang tua akan merasa khawatir saat anaknya menginjak remaja. Hal ini karena adanya pandangan bahwa masa remaja merupakan masa pemberontakan dan pergaulan yang semakin luas. Sebagai orang tua, tentunya takut kalau anaknya akan terpengaruh pergaulan yang tidak baik. Namun, ada baiknya orang tua tidak terlalu khawatir dan over protektif terhadap anak. Dengan bekal pendidikan yang baik dan pengawasan jarak jauh, remaja dapat berjalan sesuai dengan aturan. Terlalu mengekang dan terlalu banyak melarang akan membuat remaja menjadi kurang berkembang. Setiap remaja mempunyai bakat masing-masing. Remaja akan tahu dimana kelebihannya setelah mencoba beberapa hal. Ketika selalu dilarang, maka remaja tidak dapat mengetahui dan mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Saat remaja merupakan saat-saat yang perlu dinikmati dengan berkreasi. Orang tua sebaiknya hanya sebagai fasilitator dan pemberi nasihat.


Orang tua dalam keluarga berkedudukan sebagai pendidik dan remaja sebagai anak didik. Secara umum, pendidikan di keluarga dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pendidikan otoriter, pendidikan liberal dan pendidikan demokratis.

a.    Pendidikan otoriter mengharuskan anak untuk selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya. Tentu, model pendidikan seperti ini kurang pas karena tidak semua hal yang ditetapkan oleh orang tua bisa sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
b.    Pendidikan liberal merupakan pendidikan yang memberi banyak kebebasan kepada anak untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Tentu saja model pendidikan seperti ini tidak baik untuk anak. Bagaimanapun juga, anak belum memiliki cukup pengalaman dan pengetahuan. Mereka masih membutuhkan bimbingan.
c.    Pendidikan demokratis merupakan model yang pas. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan demokratis itu pendidikan yang  ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah  membimbing, di belakang memberi semangat)

Memang, saat remaja seseorang akan menjadi lebih emosional. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua melakukan pendekatan yang bersabat dengan remaja. Menjadi temannya akan lebih mudah untuk mengontrolnya. Remaja merasa dirinya patut untuk dianggap dan tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil lagi. Remaja yang masih diperlakukan seperti anak kecil biasanya akan memberontak karena merasa dirinya sanggup mandiri. Mereka juga akan merasa malu jika teman sebaya melihat mereka masih diperlakukan seperti anak kecil.

Karakteristik Lingkungan Pendidikan Usia Remaja

Usia awal remaja biasanya dimulai pada usia 13-14 tahun. Biasanya, pada saat usia itu remaja sedang berada di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka mulai mengenal sistem  sekolah yang baru. Jika pada saat di bangku Sekolah Dasar mereka hanya bertatap muka dengan satu guru setiap harinya, pada jenjang Sekolah Menengah Pertama mereka akan berinteraksi dengan lebih banyak guru setiap harinya. Mereka akan mengenal banyak guru dengan berbagai macam sifat. Tentunya, setiap guru juga mempunyai kepribadian yang bermacam-macam. Remaja harus mampu beradaptasi terhadap situasi yang beragam. Mereka juga mulai mengenal beberapa mata pelajaran baru yang mempunyai beragam karakteristik. Pada saat mereka berada di jenjang Sekolah Meningkat Atas, mereka akan dikenalkan dengan penjurusan.


Selain pengenalan pada sistem pendidikan, para remaja juga memiliki teman yang semakin luas. Mereka juga akan mengenal banyak remaja lain dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dapat disimpulkan, remaja mempunyai tiga lingkungan pendidikan dengan karakteristik dan pola yang berbeda-beda. Lingkungan tersebut adalah lingkungan kehidupan keluarga, masyarakat, dan sekolah yang diikutinya. Hal ini berarti remaja berada dalam lingkungan pendidikan yang majemuk. Para remaja harus mampu mengatasi masalah keanekaragaman dan menempatkan diri dengan tepat.


1. Lingkungan Pendidikan dalam Keluarga

Lingkungan pertama dan utama bagi remaja adalah keluarga. Pada dasarnya, lingkungan keluarga lebih mengutamakan aspek moral (pembentukan kepribadian) daripada menguasai ilmu pengetahuan. Tujuan penyelenggaraan pendidikan dalam keluarga bersifat individu sesuai dengan pandangan masing-masing keluarga. Ada keluarga yang lebih menekankan pendidikan agama agar anaknya menjadi orang yang shaleh. Ada pula keluarga yang menekankan pendidikan sosial ekonomi agar anaknya menjadi orang yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.   


2. Lingkungan Pendidikan di Masyarakat

Masyarakat merupakan lingkungan kedua bagi remaja. Remaja telah mengenal banyak karakteristik masyarakat. Kondisi masyarakat sangat beragam. Ada banyak hal yang harus diikuti oleh anggota masyarakat. Remaja perlu memahami hal itu. Perbedaan pandangan dapat mendorong para remaja untuk melanggar norma masyarakat yang sedang berlaku. Kadang remaja melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan. Dalam fungsi pendidikan, masyarakat sebaiknya membentuk kelompok-kelompok atau paguyuban-paguyuban yang disediakan untuk  remaja. Namun, masyarakat juga perlu memahami perkembangan zaman, sehingga dapat memilih kegiatan yang pas bagi para remaja jaman sekarang. 


3. Lingkungan Pendidikan di Sekolah

Sekolah merupakan lingkungan yang diciptakan untuk membina anak-anak ke arah yang dituju. Pendidikan yang ada di sekolah lebih mengutamakan pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal masa depan kelak. Namun, pendidikan di sekolah juga mengajarkan pendidikan moral agar remaja mempunyai akhlak yang mulia. Bagi remaja, sekolah merupakan hal yang mempunyai pengaruh pada nasib mereka di waktu yang akan datang. Kegagalan sekolah bagi remaja bisa dipandang sebagai awal kegagalan karirnya.